
Nabi-Nabi Palsu atau Rasul-rasul palsu biasanya muncul dengan tujuan-tujuan dunia, dan menggunakan kesempatan ketika umat didalam kebingungan ingin mencari petunjuk Allah yang sebenarnya, ibarat seorang spekulan dia bekerja ketika barang sedang laris. Ketika Islam sedang dicari-cari umat maka munculah Nabi atau Rasul Palsu dengan mengatasnamakan Islam. Atau disaat zaman kegelapan, dimana umat manusia sudah jauh dari tuntunan Allah yang lurus, maka seorang musrikpun berani mengaku diri menjadi Nabi/Rasul Palsu.
Namun Allah mengancam kepada orang-orang yang dengan berani memproklamirkan sebagai Nabi/Rasul setelah Rasulullah Muhammad saw dengan firman-Nya yang artinya:
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:"Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata:"Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalan tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) :"Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri ayat-ayat-Nya. (QS. 6:93)
Sikap Terbaik Menghadapi Nabi/Rasul Palsu.
Munculnya Nabi/Rasul palsu adalah termasuk menggoyang wibawa para ‘Alim ‘Ulama, para pewaris Nabi Muhammad saw dan juga terhadap pengamalan ajaran agama Islam. Dalam pemerintahan Islam munculnya mereka memiliki konsekwensi hukum bunuh, kecuali mereka bertaubat dengan sebenar-benar taubat. Karena mereka telah berani berbohong dengan mengatas namakan Allah, yang ajarannya dipastikan menyimpang.
Seorang muslim yang sholih, tidak pernah sedikitpun tergores dalam benaknya untuk berbuat sesuatu yang sangat-sangat besar dosanya, dengan mengaku sebagai Rasul baru.
Munculnya Nabi dan Rasul Palsu di negri kita Indonesia, yang bukan Negara Islam, tentunya membutuhkan penyelesaian yang lain lagi. Kita menghimbau pada umat islam agar tidak main hakim sendiri, karena mungkin saja, Nabi atau Rasul Palsu yang ditampilkan ke permukaan adalah untuk membuat kekeruhan ditengah-tengah umat yang sedang merindukan bimbingan para ‘Alim dan ‘Ulama yang Sholih dalam menghadapi masalah-masalah hidup mereka. Sehingga bila ditangani dengan gegabah bisa menimbulkan konflik horizontal yang sia-sia. Yang dapat merugikan umat Islam sendiri.
Langkah yang paling ‘Arif adalah kebersamaan para ‘Alim ‘Ulama yang sholih untuk segera berbenah diri, bagaimana membimbing umat ini kepada ajaran Islam yang bersih-murni dan lurus, sehingga kehausan mereka akan pengamalan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara bersih murni dapat terwujud dan dapat menyelesaikan masalah umat yang bertimbun-timbun di saat ini.
Kerja sama para ‘Alim ‘Ulama dan aparat yang berwajib sangat diharapkan, sehingga betul-betul kemesraan para ‘Alim ‘Ulama dan Umaro’(pemerintah) menghasilkan kerjasama yang membahagiakan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.
Semoga Allah menyadarkan kita semua umat Islam khususnya untuk mengoreksi diri dan bertaubat kepada Allah, dan semoga Allah menyadarkan para Nabi-Nabi dan Rasul-rasul palsu tersebut agar segera bertaubat, sebelum kematian menjemput mereka, dan betapa siksa yang akan mereka terima begitu sangat besar dan sangat dahsyat yang kekal selama-lamanya sebagaimana firmanNya yang artinya
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkah hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 40:56)
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. 7:40)













