
Banyaknya orang-orang mengaku sebagai Nabi atau Rasul baru di tanah Jawa antara lain dipicu oleh keyakinan adanya mitos akan datangnya Ratu Adil. Mitos yang diambil dari ramalan manusia biasa tentunya bagi umat Islam adalah sesuatu yang dilarang, karena ramalan yang disampaikan selain Rasulullah Muhammad saw, adalah keyakinan yang batil dan dapat dikategorikan sebagai kemusrikan yang harus diingkari.
Keinginan manusia untuk mewujudkan keadilan hanya dapat diwujudkan dengan ketaqwaan sebagaimana firman Allah yang artinya;
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. ………...(QS. 2:143)
…………..Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan. (QS. 5:8)
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)
Mitos kedatangan ratu adil dalam keyakinan orang jawa, atau umat islam di tanah jawa perlu diluruskan penjabarannya. Bahwa dengan Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan diamalkan akan membuat setiap pribadi menjadi bertaqwa, dan itulah pangkal keadilan.
Untuk menjadi manusia yang bertaqwa perlu melatih diri dengan rajin mengendalikan hawa nafsu, sehingga kwalitas ketinggian derajad manusia akan terangkat disisi Allah, Tuhan pemilik, pencipta, dan pemelihara semesta Alam.
Untuk mewujudkan hal yang demikian dituntut kepada para ‘alim ‘ulama yang sholih, untuk menyempurnakan umat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengajak umat agar umat bertekun untuk mengilmui, mengimani dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan dijauhi segala, tambahan-tambahan yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad saw.
Sudah waktunya ‘ulama-‘ulama sholih untuk bekerja keras turun gunung, berbaur dengan masyarakat Islam untuk membimbing umat secara sungguh-sungguh, agar umat lurus dalam beragama Islam dan tidak disesatkan oleh para orang-orang kafir, fasik dan munafik yang hendak menyesatkan umat Islam dari jalan yang lurus.













