Seseorang bersama orang yang dicintai



Seseorang bersama “Seseorang beserta orang yang dicintai.”
Riwayat dari Abu Musa ra, mengatakan:
Seorang lelaki datang kepada Nabi saw, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang mencintai suatu kaum dan ia tak pernah berjumpa dengan mereka…”

Rasulullah saw, bersabda:
Hadits mulia ini berniscaya bagi kita untuk mencintai kaum ahli ma'rifat (arifin), sekaligus menjadi berita gembira bahwa kita bersama mereka, manakala cinta kita benar. Bukankan agama itu tidak lain adalah cinta dalam Allah dan benci karena Allah? Maka diantara rahasia cinta sejati adalah sang arif diangkat ke wilayah maqom Sirr dan Keagungan ketika berdialog pada selain Dia.

Anak-anak sekalian! Ketahuilah bahwa Allah Yang Maha mengenal terhadap rahasia-rahasia para penempuh, Yang Melihat hasrat kaum arifin, memberikan tugas kepada mereka agar selaras dalam ‘ubudiyah, lalu mewujudkannya dengan prasyarat-prasyaratnya, agar tidak melampaui batas kehambaannya, jangan sampai memasuki batas Rububiyah.

Jangan sampai melampaui batas kefakiran melewati batas Kemahacukupan Allah Ta'ala.

Allah swt berfirman:
“Wahai manusia, kalian semua adalah fakir (butuh) kepada Allah, dan Allah adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”

Segala sesuatu ini ada sebab, dan sebab bagi jalan keluar adalah ubudiyah yang benar. Allah swt berfirman:
“Siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar”.

Jalan keluar dari penyembahan selain Allah swt. Dan Allah “Memberi rizki” berupa rasa senang bahagia dan cinta serta rindu kepadaNya, “Tanpa bisa dihitung.”

Makna ayat tersebut dalam versi lain juga, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah” dengan menjaga rahasia-rahasia diri dari bencana berpaling kepada selain Allah, “Maka Allah akan memberikan jalan keluar padanya,” dari hijab penjauhan dari Allah, “dan Allah memberikan rizki” berupa Musyahadah dan Wushul, “dari arah yang tak terduga.”

Begitu juga Allah menjadikan sebab kema'rifatan hamba kepada Tuhannya, melalui pengenalan hamba pada dirinya, “Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
Maknanya:
  • Siapa yang mengenal dirinya dengan wujud kehambaannya, maka ia mengenal Tuhannya dengan RububiyahNya.
  • Siapa mengenal dirinya dengan fananya, maka dia mengenal Tuhannya dengan Baqa'Nya.
  • Siapa yang mengenal dirinya dengan kehambaan dan serba salahnya, maka ia mengenal Tuhannya dengan keselarasan dan anugerahNya.
  • Siapa mengenal dirinya dengan rasa butuhnya, maka dia mengenal Tuhannya dengan menegakkan rasa sangat terdesak untuk menuju hanya kepada dan bagi Allah.
  • Siapa mengenal dirinya hanya bagi Tuhannya, maka sedikit sekali kebutuhan kepada selain Allah.
Nabi Saw Bersabda:
“Siapa yang mengenal (ma'rifat) Allah, maka ia teguh dengan haknya.”

Maksudnya:
  • Siapa mengenal Allah melalui hidayah, maka ia pasti menyerahkan sepenuhnya kepadaNya.
  • Siapa mengenal Allah melalui RububiyahNya, ia tegak dengan prasyarat Ubudiyah kepadaNya.
  • Siapa mengenal Allah melalui balasanNya, maka terjadilah rasa mohon pertolongan padaNya.
  • Siapa mengenal Allah melalui kecukupan dariNya, maka ia tidak butuh kepada selain DiriNya.

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl